Penutupan dan Pemaparan Hasil Rapat Kerja Terbatas (Rakertas) Setjen Wantannas 24-26 April 2019
26 April 2019
Penutupan dan Pemaparan Hasil Rapat Kerja Terbatas (Rakertas) Setjen Wantannas 24-26 April 2019

Jakarta, Jumat (26/04/2019) Deputi Bidang Pengkajian dan Penginderaan Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Laksda TNI Teguh Prihantono, S.Sos mewakili Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Letjen TNI Doni Monardo menutup rangkaian acara Rapat Kerja Terbatas (Rakertas) Setjen Wantannas. Rangkaian acara Rakertas sendiri dimulai dari hari Rabu (24/04/2019) dan dilaksanakan di Hotel Ciputra, Jakarta.

Dalam penutupan Rakertas kali ini, terpilih tiga tema yang dipaparkan sebagaimana yang telah didiskusikan bersama yaitu pertama, Antisipasi Dampak Negatif Defisit Kembar (Twin Deficit) Terhadap Ketahanan Ekonomi Nasional tema dari kelompok Kedeputian Pengembangan, Pemberdayaan Generasi Milenial Di Pedesaan Untuk Mengelola Potensi Emas Hijau Guna Meningatkan Kesejahteraan Masyarakat Dalam Rangka Ketahanan Nasional tema dari kelompok Kedeputian Politik dan Strategi serta Optimalisasi Tata Kelola Danau Limboto Berwawasan Lingkungan Dalam Rangka Ketahanan Nasional dari kelompok Kedeputian Sistem Nasional. Dalam paparan tersebut, Deputi  Politik dan Strategi Irjen Pol Drs. Sukma Edi Mulyono, M.H. ditunjuk sebagai Moderator.

Dosen Universitas Atmajaya Dr. Y.B. Suhartoko, SE, ME menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi fenomena defisit kembar (twin deficit), apabila tidak dikelola dengan baik akan berdampak negatif terhadap ketahanan ekonomi nasional, oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi.

 Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, MS menyatakan jumlah generasi muda akibat bonus demografi di pedesaan lebih banyak dibanding generasi muda di perkotaan, namun kurang tertarik dengan pertanian padahal potensi emas hijau melimpah di pedesaan.

“Kurangnya pemahaman digenerasi muda sering menimbulkan misperception yang mengganggap pertanian itu ndeso, padahal jika dikelola dengan baik menggunakan teknologi dan ilmu pengetahuan, ke depan tidak akan ada lagi anak desa yang urban ke kota melainkan memaksimalkan potensi yang ada di desa,” ungkapnya.

Hadi Susilo menambahkan, prospek komoditi emas hijau sangat terbuka untuk pasar dalam dan luar negeri yang secara nyata dapat meningkatkan kesejahteraan. Oleh sebab itu, sangat diharapkan kajian tentang program pemberdayaan emas hijau oleh milenial menjadi solusi bagi pemerintah terutama pemerintah daerah.

Sumber  : www.wantannas.go.id